Category

Culinary

Category
yukepo.com

Sudah hampir 4 tahun sejak terakhir diadakannya Festival Kipo pada tahun 2016 silam. Kala itu saya bersama beberapa rekan mengikuti jalannya sebuah pawai tanpa ada maksud apapun kecuali turut memeriahkan festival yang berlokasi di Jalan P. Romo Winong dan sekitar Prenggan, Kotagede tersebut.

Pawai tersebut menjadi bagian “Festival Kipo 2016” dalam rangka memperingati HUT Jogja ke-260. Festival ini juga diadakan sebagai bentuk branding Gelar Potensi Kampung Wisata 2016 yang diadakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Yogyakarta.

Rangkaian acara dimulai dari Gelar Kesenian, Pawai Budaya, Pameran, hingga launching Sekolah Jawa. Namun, yang lebih menarik perhatian saya adalah kue yang menjadi ikon utama dalam festival ini, yakni kipo.

Kue yang melegenda
Kipo merupakan makanan yang pas untuk kamu yang doyan ngemil. Kue ini memiliki bentuk pipih lonjong agak memanjang sebesar ibu jari, tekstur kenyal, dan berwarna kehijauan. Isian kipo terdiri atas parutan kelapa dan gula jawa cair. Nama kipo sendiri muncul dari pertanyaan dalam bahasa Jawa iki opo yang berarti ini apa ketika pertama kali melihat kuliner tersebut.

Kue yang memiliki perpaduan rasa manis dan gurih ini telah ada pada masa kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam. Kue khas Kotagede ini sempat punah setelah masa kejayaan kerajaan Mataram Kuno. Namun, kue ini kembali diproduksi hingga kini. Makanan khas yang kini sudah menapaki generasi ke-3 ini telah menjadi ikon Kotagede sejak tahun 1948.

Proses pembuatan tradisional
Bahan utama dari kue ini adalah tepung beras yang dicampur tepung ketan hingga membentuk adonan. Adonan tersebut kemudian dicampur dengan parutan kelapa, daun suji dan daun pandan, serta pewarna hijau alami. Tujuannya untuk menimbulkan aroma harum khas makanan unik ini.

Setelah itu adonan dibentuk menjadi bentuk lonjong kecil. Kemudian adonan tersebut ditempelkan pada piring tanah liat lalu dipanggang dengan alas daun pisang. Ada pula proses pemanggangan dengan menggunakan gentong tanah liat, yakni adonan ditempelkan pada sekeliling dinding gentong bagian dalam kemudian dipanggang. Setelah hampir masak, parutan kelapa yang telah dicampur dengan gula jawa atau biasa disebut enten-enten dimasukkan ke dalam adonan dan dilipat menjadi dua lalu dipanggang lagi hingga matang.

Kipo biasanya disajikan dengan menggunakan daun pisang yang telah dipotong kecil-kecil untuk dijadikan alas. Kini, untuk memudahkan pembeli yang hendak membawa pulang kue ini, kipo beserta alas daun pisangnya dimasukkan dalam kemasan plastik.

Resep mudah di rumah
Tenang, kamu tetap bisa menikmati kipo tanpa harus berkunjung ke Yogyakarta. Ada beberapa resep rumahan yang dapat kita gunakan sebagai acuan untuk memasak kipo. Jangan khawatir, karena resep tersebut tentunya disesuaikan dengan alat yang umum digunakan dan bahan mudah ditemukan.

Ada beberapa cara yang lebih praktis untuk memasak kipo. Di antaranya kita dapat menggunakan pasta pandan sebagai pengganti daun pandan. Sedangkan, untuk pewarna makanan alami, selain daun pandan dapat pula digunakan daun katuk.

Alat pemanggang adonan yang seharusnya berbahan dasar tanah liat juga dapat diganti dengan teflon atau wajan dapur yang dipanaskan di atas kompor. Fungsi dari penggunaan tanah liat adalah untuk menguatkan rasa dan aroma adonan. Sebagai ganti penguat rasa tersebut, kita bisa menambahkan bubuk vanili jika memasak tanpa piring tanah liat.

Kepoin rasanya
Tidak perlu merogoh kocek banyak untuk menikmati lezatnya kipo. Cukup dengan sekitar 2.000 rupiah kita bisa mendapat 3 sampai 4 buah kipo.

Kipo dapat ditemui di beberapa pasar tradisional di daerah Yogyakarta. Untuk lebih pastinya, berkunjunglah ke Kotagede, karena tidak hanya disuguhkan di pasar tradisional, di sana kita juga dapat mengunjungi industri rumahan sekaligus belajar pembuatan kipo secara tradisional.

Yuk, kepoin kue lezat yang melegenda khas Yogyakarta ini!